Merenungi ‘Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali’

Buku yang baik adalah buku yang bisa meninggalkan kesan mendalam pada para pembacanya. Kesan tersebut bisa saja macam-macam, seperti gembira, sedih, trauma, dan masih banyak kesan-kesan lainnya. Nah, salah satu buku yang bisa meninggalkan kesan seperti itu adalah buku ‘Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali’-nya Puthut EA.
Membaca buku ini, kita seakan dibawa ke masa lampau. Masa dimana saat itu paham komunis dianggap nyelenthang dari ideologi bangsa kita. Namun, Puthut membungkusnya dengan apik dan cukup berhasil menjadikan gambaran tentang kehidupan masa tersebut mengalir indah tanpa kesan seperti membaca buku teks book sejarah.

So, ‘Seekor Bebek yang Meninggal di Pinggir Kali’ adalah sebuah kumpulan cerpen singkat berjumlah 15 cerita yang kadang menggelitik dan membuat kita merenung. Dikatakan menggelitik karena cerpen singkat tersebut dituturkan lewat sudut pandang polos tokoh ‘aku’ yang bisa saja berwujud anak kecil, seorang pria ataupun seorang wanita. Lewat kepolosan tokoh aku, kita juga dibuat merenung seperti di salah satu cerpen ‘Obrolan Sederhana’.

Tentang Manusia yang Resah

https://rebeccawhenimposh.files.wordpress.com/2014/11/talking-over-coffee.jpg

Cerpen tersebut bercerita tentang obrolan dua orang pria di sebuah vila. Perkenalan basa-basi mereka berlangsung secara nggak biasa, dimana para tokoh ini saling memperkenalkan diri dengan menggunakan identitas palsu. Walaupun begitu, lama kelamaan keduanya berhasil berbincang-bincang mengenai topik sederhana, namun sarat akan makna.

“Kenapa banyak orang semakin tidak bahagia? Kesepian. Gampang resah. Semua serba semakin tidak jelas…” ia seperti bergumam. (31)

“Di mana-mana, aku melihat kabut menutup menutup cahaya harapan. Banyak orang begitu resah. Tayangan televisi dan media massa memberitakan banyak hal seakan-akan jalan di depan kita tak pernah ada titik terangnya. Sebentar lagi kita akan ada pesta. Memilih sejumlah orang yang akan membunuh begitu banyak harapan orang hanya lewat omong kosong…” (33-34)

Bukankah penggalan dialog di atas bisa membuat kita merenung mengenai kehidupan yang kita jalani saat ini?

Kepercayaan yang Bisa Memantik Trauma

https://files1.coloribus.com/files/adsarchive/part_1692/16926905/anti-discrimination-message-sectarian-upbringing-religion-600-96060.jpg

Kritik mengenai kepercayaan pun juga dikemas oleh Puthut secara gamblang lewat cerpen ‘Doa yang Menakutkan’. Tokoh ‘aku’ sebagai anak kecil berhasil memunculkan rasa miris tentang tema keagamaan di sekitar kita.

‘Aku diam. Aku hanya bisa menggeleng. Tapi sebetulnya aku ingin berkata, orang-orang yang datang ke kampungku, merusak masjidku, juga mengeluarkan doa-doa yang sama dengan doa-doa yang kubaca. Aku tidak mau lagi membaca doa-doa itu. aku tidak mau ketakutan lagi. Mungkin doa-doa itu tidak boleh kuucapkan lagi. Mungkin mereka datang karena ingin mengambil doa-doaku. Mungkin doa-doa itu dulu adalah milik mereka. Mungkin orangtuaku, tetanggaku, aku dan kawan-kawan mencurinya. Aku berpikir untuk mencari doa yang lain saja. Kalau ada. Kalau tidak ada, aku pikir tidak perlu berdoa, asal ibu tidak menutup jendela dan bapak tidak menutup pintu.’ (51)

Betapa dari situ kita bisa mengetahui efek trauma pada suatu kepercayaan yang bisa menimpa kita.

Selain kedua cerpen di atas, masih banyak lagi cerpen lain yang membuat kita terhenyak akan kehidupan masa lalu yang ternyata bisa saja terjadi di masa kini. Nggak menutup kemungkinan pula, kejadian masa lalu bisa terulang dalam beberapa tahun ke depan. Semoga saja nggak ya, tapi nggak ada salahnya juga membaca kisah masa lalu tentang bangsa kita ini. Hitung-hitung memperkaya pengetahuan dan bahan diskusi. Ah, jadi nggak sabar pengin mendengar pendapat kalian!

Feature image umbarabooks

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *