Slentingan Nyelekit Tentang Waktu di Alice Through the Looking Glass

Selain bikin kamu makin tahu apa itu waktu, lewat tokoh Alice sendiri kita juga dibuat mikir beberapa hal tentang hidup. Misalnya cara pandang kita pada kata ‘impossible’ yang mungkin bisa kamu rubah jadi kayak katanya si Alice ini, ‘The only way to achieve the impossible is to believe it is possible.’

http://leagueofmanchildren.com/wp-content/uploads/2016/05/Alice_Through_LookingGlass_trailer.jpg

Waktu adalah hal abstrak, tapi punya pengaruh yang besar pada hidup kita. Makanya, ada pepatah Bahasa Inggris yang berbunyi ‘time is money’. Ada benarnya juga sih.

http://www.flickeringmyth.com/wp-content/uploads/2016/05/alice-through-the-looking-glass-tv-spot.jpg

Tapi persepsi tentang waktu ini jadi beda di film Alice Through the Looking Glass. Yang bikin tergelitik tentang waktu adalah, ‘Time is a he?’. Yap, di film ini waktu nggak lagi jadi benda abstrak, tapi dia adalah laki-laki bernama Time (Sasha Baron Cohen). Lelaki ini tugasnya adalah menjaga jalannya waktu dan mirip-mirip dikit sama malaikat pencabut nyawa. Ada saatnya dia pergi ke ruangan ‘jam manusia’ dan mendengarkan dengan seksama mana jam mana yang hampir berhenti berdetik. Setelah ketemu, dia menutup jam tersebut dan memindahkannya ke ruangan jam yang mati.

Berjuang Melompati Ruang dan Waktu Demi Sahabat

Semuanya berubah saat Alice (Mia Wasikowska) datang dan mencuri sesuatu bernama Chronosphere alias mesin waktu untuk menolong temannya, Mad Hatter (Johnny Depp). Ceritanya, Mad Hatter yakin kalau keluarganya masih hidup setelah tragedi serangan naga yang menimpa desa tempatnya tinggal. Tapi, Alice dan kawan-kawan lainnya nggak percaya dan hal itu bikin Mad Hatter semakin menderita. Nggak mau melihat Mad Hatter sakit-sakitan, Mirana (Anne Hathaway) punya ide cerdik untuk membantu Mad Hatter lewat Chronosphere tersebut. Maka dimulailah perjalanan Alice melompati ruang dan waktu demi Mad Hatter.

http://www.onelargeprawn.co.za/wp-content/uploads/2016/05/AliceThroughTheLookingGlass-5.jpg

Film yang disutradarai oleh James Bobin ini menurut saya lumayan bisa dinikmati. Fokus utama dalam film ini adalah waktu, karena berkali-kali disebut di dialog antar tokohnya. Tokoh Time juga menarik perhatian, karena dia merupakan alegori dari waktu itu sendiri. Ada satu adegan ‘lucu’ dimana Mad Hatter, Thackery (Paul Whitehouse), dan Mallymkun (Barbara Windsor) mempermainkan Time yang pada akhirnya membuat mereka terjebak dalam kegiatan minum teh selamanya. Jadi inget kebiasaan saya dulu mempermainkan waktu di jaman skripsi yang efeknya skripsi nggak kelar-kelar. Miriplah sama yang dialami Mad Hatter dan kawan-kawan.

Baca Juga: X-Men Apocalypse, Gegara Kepo Jadilah Cerita yang Lumayan Seru

Tentang Waktu dan Cara Memandang Hal yang ‘Impossible’

https://i2.wp.com/www.moviedeskback.com/wp-content/uploads/2016/03/Alice_Through_The_Looking_Glass_HD_Screencaps-17.png

Selain itu, kita juga akan dibuat merenung tentang waktu lewat perjalanan tokohnya. Coba deh simak kutipan-kutipan tentang waktu ini.

‘Time is a thief and a villain.’ Alice Kingsleigh

‘You might not change the past, but you might learn something from it.’–Time

‘I used to think time was a thief. But you give before you take. Time is a gift. Every minute. Every second.’ –Alice Kingsleigh

‘Time is many things, but he is not money and he is not our enemy.’ — Alice Kingsleigh

Nah, gimana? Mantep nggak kutipannya? Selain bikin kamu makin tahu apa itu waktu, lewat tokoh Alice sendiri kita juga dibuat mikir beberapa hal tentang hidup. Misalnya cara pandang kita pada kata ‘impossible’ yang mungkin bisa kamu rubah jadi kayak katanya si Alice ini, ‘The only way to achieve the impossible is to believe it is possible.’

http://screenrant.com/wp-content/uploads/alice-through-looking-glass-movie-2016-review.jpg

Film ringan ini juga didukung dengan efek CGI nya yang apik dan penuh warna, kostum tokoh-tokohnya yang unik, dan suara merdu Pink di akhir film. Pesan saya sih, pas nonton film ini jangan dibanding-bandingin sama film sebelumnya. Karena sutradaranya beda, ‘rasa’ filmnya pun punya khas sendiri. Jadi, saya tunggu komentar kalian tentang film ini ya!

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *