Kenapa Males Baca? Kenapa Buang Sampah Sembarangan? KZL!

Oiya, belakangan ini saya jadi agak rajin membaca buku lho. Bukan, bukan hendak pamer
atau pengin dibilang intelek. Cuma sayang lihat buku yang jablay di tumpukan. Sekalian mengasah konsentrasi dan memperkaya kosakata, karena belakangan saya merasa sering gagal fokus dengan segala hal yang menuntut konsentrasi tinggi. Contohnya menulis.

Yap! Menulis juga butuh konsentrasi tinggi lho. Kalau nggak fokus bisa bahaya. Jadi banyak typo dan bisa melenceng kemana-mana nanti topiknya. Coba deh kalau typo di kata kontrol jadi kont*l, atau kurang jadi kutang. Fail banget kan? Paling parah, akhirnya stuck nggak tahu mau nulis apaan. Hemmmm, fatal!

Baik lagi ke soal membaca. Benarlah kata seorang kawan yang blognya sering saya baca
belakangan ini. Di situ blio menulis tentang masyarakat kita yang kurang banget minat
membacanya. Bahkan dalam keadaan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membaca
pun (antri, dalam angkot, dan banyak lagi), kita lebih demen menatap bengong ke satu titik atau senam jempol di atas smartphone. Kaget? Nggak to? Lha wong wis biasa, ngapain kaget. Saya sendiri juga begitu adanya. Ah!

Mundur lagi ke beberapa waktu lalu, saat saya baru pertama kali menjadi anggota grup WA
keluarga. Salah seorang anggota keluarga mengirim broadcast mengenai pendidikan
‘knowing’ dan ‘being’. Wah, saya yang ngowoh ini semakin ngowoh membaca kebenaran
akan broadcast tersebut.

Kira-kira begini menurut penafsiran saya. Kita semua tahu kan apa itu ‘knowing’ dan ‘being’. Dalam bahasa Indonesia artinya ‘mengetahui’ dan ‘menjadi’. Lha terus? Terus, coba deh inget-inget saat kita sekolah SD dulu, saat dimana kita lagi gampang-gampangnya dipermak. Pernah nggak saat SD kita mendapat tugas untuk membaca satu buku saja di luar buku pelajaran? Seinget saya sih nggak pernah. Pun kemudian di jenjang pendidikan selanjutnya. Walhasil, kita membaca hanya ketika perlu saja, nggak jadi kebiasaan. Kita cuma tahu, kalau membaca itu pangkal pandai. Tapi nggak dikasih kesempatan buat praktek membaca banyak-banyak buku. Akhirnya kita membaca titik kosong, hasilnya pandai melamun. Kita membaca layar smartphone, hasilnya pandai galau, baper, dan pamer. Lho ya!

Contoh selanjutnya adalah kebiasaan buang sampah sembarangan. Haduh! Sebanyak apapun berkoar-koar di dunia maya dan nyata, serta bencana banjir telah menjadi tamu setiap musim hujan tetep aja ada orang yang buang sampah sembarangan. Sebabnya? Ya kita cuma dikasih tau, buanglah sampah pada tempatnya. Titik. Dalam pengawasan Bapak Ibu Guru ya berhasil, kalau nggak ada mereka? Bhay! Sampah…sampah… everywhere. Itu karena kita hanya dikasih tahu, tanpa ada praktek untuk membiasakannya di semua tempat. Sering lho saya lihat bapak atau ibuk membolehkan anaknya buang sampah sembarangan. Duh dunanges!

Yah, mau bagaimana lagi? Lha wong selama ini kita dicetak untuk jadi makhluk yang sekedar tahu. Nggak diajari jadi makhluk yang ‘menjadi’. Yowes deh semoga kita semua pada akhirnya bisa mem-‘being’-kan diri sendiri dulu ya! Baru kemudian yang lain-lain.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *