Almanya, Welcome To Germany: Arti Keluarga dan Tanah Air

Emang kadang dalam satu keluarga, pasti ada yang suka bikin sebel. Yah gimana ya, namanya juga manusia. Pasti ada baik dan buruknya. Dari film ini kita bisa belajar, semenyebelinnya salah satu anggota keluarga kita, tetep aja kita membutuhkan satu sama lain. Apalagi kalau dalam masalah genting. Siapa lagi coba yang always stand by? Mereka selalu bisa diandalkan.

Semua orang punya masalah. Yap! Sebuah adegan pembuka film Almanya, Wilkommen in Deutschland (Almanya, Welcome To Germany) ini sukses bikin baper. Langsung deh inget masalah-masalah yang lagi lengket sama pikiran. Besar, kecil, yang namanya masalah itu ya tetep bikin nyesek. Ya to?

Tapi tenang, filmnya nggak bikin nambah masalah kita kok. Justru bikin lupa karena adegan komedinya yang antimainstream banget. So, Almanya ini berkisah tentang seorang kakek yang miris karena cucunya dibully di sekolah. Doski dibully lantaran keturunan Turki, tapi nggak bisa ngomong pake Bahasa Turki. Jadinya, Turki nggak Turki, Jerman nggak Jerman, gitu deh.

http://www.skip.at/media/_versions/filme/14382/pger/4_span-12.jpg

Nah biar si cucu ini tau tanah kelahiran kakek neneknya, maka si kakek ini mengajak seluruh anggota keluarganya untuk liburan ke Turki. Si anak-anak yang sudah kadung terlena dengan hidup a la Jerman berontak dong. Nggak mau diajak ke kampung halaman. Tapi si kakek nggak nyerah, singkat cerita keluarga ini berangkat ke Turki.

Biar sampeyan-sampeyan penasaran sama filmnya, sampai situ aja ya ceritanya. Nonton aja wes, daripada nggak bisa tidur. Filmnya ini buagus sumpah. Lha wong menang Best Script dan Best Film kok. Kalau begitu, yuk lanjut ke moral story film ini. Berdasarkan pengamatan saya kira-kira begini moral story-nya:

1. Nyelekit banget jadi orang asing di negeri sendiri

Banyak ya pandangan, kalau di negara orang lain itu lebih enak. Hidup lebih terjamin. Akhirnya kita terpesona dan merubah kewarganegaraan kita. Ya, bukannya bermaksud menyalahkan orang yang merubah kewarganegaraan sih ya.

http://i.vimeocdn.com/video/318484358_1280x720.jpg

Itu juga hak mereka. Tapi kalau menilik dari film ini, jangan buru-buru deh merubah kewarganegaraan. Apalagi kalau deep down, kita masih sama cinta tanah air beta dan masih sering-sering pulang kampung. Ntar kalau ada apa-apa di negeri sendiri, tentunya kita mendapat perlakuan sebagai WNA dong.

2. Kadang bikin sebel, tapi keluarga selalu stand by buat kita

http://www.endtitles.com/wp-content/uploads/2011/06/Almanya.jpg

Emang kadang dalam satu keluarga, pasti ada yang suka bikin sebel. Yah gimana ya, namanya juga manusia. Pasti ada baik dan buruknya. Dari film ini kita bisa belajar, semenyebelinnya salah satu anggota keluarga kita, tetep aja kita membutuhkan satu sama lain. Apalagi kalau dalam masalah genting. Siapa lagi coba yang always stand by? Mereka selalu bisa diandalkan.

3. Kalau ada apa-apa cepet ngomong, ketimbang telat. Nyesel loh!

http://www.deutscher-filmpreis.de/fileadmin/_processed_/csm_915_6.drehtag-almanya_0014_dec9eed659.jpg

Nggak peduli mau gimana nantinya, apa reaksi keluarga, kalau ada sesuatu mending buru-buru deh diomongin. Urusan lainnya belakangan deh, yang penting ngomong dulu dari hati ke hati. Insyaallah, mereka paham kok kegalauan kita. Jangan nunggu siap. Kamunya siap, tapi tiba-tiba terlanjur telat. Nah lho!

4. Hidup di luar negeri nggak gampang, semuanya serba asing

https://i.ytimg.com/vi/9OOLXvJuqhg/maxresdefault.jpg

Hidup di negeri orang tantangannya jelas lebih besar. Bayangin deh, kudu belajar bahasanya, belajar budayanya, mengenal lingkungan sekitar, membiasakan lidah dengan makanannya, dan banyak lagi yang harus kita adaptasi. Dan itu dituntut bisa secepat kilat. Karena itu, jangan terlena deh pengen hidup di luar negeri cuma gara-gara lihat si A posting foto jalan-jalan terus. Siapa tahu dibaliknya ada mata yang menangis tiap malam. Tsah!

Garis besarnya, film ini ingin menunjukkan seberapa penting arti keluarga dan asal usul kita. Alangkah baiknya meskipun kita sudah punya keluarga sendiri, tetep inget dan meluangkan waktu untuk anggota keluarga yang lain. Dan saat kita tinggal di negeri orang, jangan sampai lupa akan budaya kita sendiri. Begitulah kiranya pemirsa. Segeralah ditonton, biar bisa ngobrol-ngobrol cantik. Siapa tahu sampeyan juga nemu moral story yang lain. Ini disimak dulu trailernya.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *