Sexism in business

Jadi wanita karir pasti rasanya ngeri-ngeri sedap. Saya nggak tahu pasti gimana rasanya, lha wong terakhir cek, saya masih laki-laki kok. Kesimpulan itu saya tarik setelah sesi curhat romantis pagi hari bersama istri.

Semalam sebelumnya kami nonton film berjudul The Intern. Ceritanya menarik, tentang seorang CEO wanita sebuah perusahaan start up. Suatu hari, ia (tanpa sadar) meng-ACC keputusan untuk menerima senior intern atau pegawai magang usia lanjut. Nah, kehidupan wanita bernama Jules ini bisa kita simak dari sudut pandang si bapak pegawai magang, Ben Whittaker.

Jules sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak. Karena doi sebagai tulang punggung keluarga, jadilah suaminya stay-at-home-dad yang bertugas mengurus anak mereka selama Jules bekerja. Seperti beberapa wanita karir lainnya, Jules tentu tak lepas dari cibiran mamak-mamak yang ada di sekolah anaknya.

Betapa, wanita karir tak lepas dari cibiran, bahkan dari sesama wanita. Cibiran ini nggak berhenti di situ saja. Jules juga diremehkan oleh beberapa CEO yang pernah ditemuinya. Salah satu CEO bahkan menyebut bisnis yang digeluti Jules sebagai ‘a chick site’. Cuma buat pemenuh hasrat belanja dedek-dedek gemes.

Diskriminasi Wanita Karir di Indonesia

woman-at-work-istock_000005
Diskriminasi wanita di dunia kerja [source]
Setelah melihat film itu, saya jadi tertarik menelusuri sexism in business. Jadilah saya googling-googling mengenai hal tersebut. Di Indonesia, 57 persen pekerja perempuan diperkejakan di sektor informal. Berdasarkan data yang sama dari BPS dan Sakernas, penghasilan rata-rata perempuan bekerja di sektor di luar agrikultur, hanya sekitar 80 persen dari penghasilan pria.

Sedangkan menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas) tahun 2013, menyebutkan hanya 209.512 perempuan yang memegang posisi tinggi di berbagai sektor pekerjaan. Dengan kata lain, hanya 18 persen dari 1,1 juta total pekerja perempuan yang bekerja di level manajerial.

Selain masalah posisi dan jabatan, wanita karir acap kali juga mendapat perlakuan yang nggak enak dari rekan sesama mereka. Kejadian ini menimpa salah seorang teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Indonesia. Yang namanya perusahaan multinasional, pasti kadang ada bulenya. Mereka ini sudah terbiasa secara gamblang dan blak-blakan dalam menyampaikan pendapat. Nah, teman saya yang (apesnya) pribumi ini juga terbiasa vokal. Tapi, saat ia vokal kebanyakan rekan kerjanya (terutama laki-laki) malah nggak menggubris, beda lagi kalau bule yang ngomong. Mereka bakalan mendengarkan dengan mendelik dan ngowoh. Mboh iku ngerti opo gak asline.

Kenapa bisa begitu? Menurut pendapat saya, mereka sudah maklum kalau bule itu gitu. Sedangkan wanita Indonesia yang vokal dan agresif ini dalam pikiran mereka menjadi ‘wanita yang susah diatur’. Helow?

Padahal sejatinya, Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO Nomor 100 Tahun 1951 tentang Pengupahan yang Sama Antara Pekerja Laki-Laki dan Wanita untuk Pekerjaan Yang Sama Nilainya, dengan Undang-Undang Nomor 80 Tahun 1957; Konvensi ILO Nomor 111 Tahun 1958 tentang Diskriminasi Dalam Pekerjaan dan Jabatan, dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1999; dan Konvensi PBB tentang Convention on the Elimination of all form of Discrimination Against Women (CEDAW) dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984. Selain itu, dikeluarkan pula TAP MPR Nomor XVI/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia; Keppres Nomor 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia; dan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional.

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” Begitulah kata Leo Tolstoy. Peraturan yang dibuat memang kadang sulit untuk dijalankan 100 persen. Sembari berdoa agar peraturan tersebut berjalan secara maksimal, yuk kita rubah diri sendiri jadi lebih baik terlebih dahulu.

 

 

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *