Kerasnya hidup seekor monyet sirkus topeng dalam O

Dunia sastra Indonesia semakin menarik untuk diikuti. Ada beberapa penulis Indonesia yang karyanya nggak perlu diragukan lagi, bahkan mereka berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah sastra dunia. Salah satunya Eka Kurniawan.

Perkenalan saya dengan Eka Kurniawan dimulai ketika menyelami dunia Lelaki Harimau. Cerita di novel itu membuat saya “merinding” terutama di bagian akhir. Nggak nyangka, cerita yang penuh jalinan tersebut berakhir di sebuah konflik yang simple, tapi benar-benar terjadi di sekitar kita.

Mungkin itulah kehebatan Eka Kurniawan, mengemas tragedi sehari-hari dalam kata-kata dan alur yang melenakan. Setelah Lelaki Harimau, perasaan saya dibuat kacau dengan mengikuti kisah hidup seekor monyet bernama O.

Mengikuti lika-liku hidup O membuat saya berkali-kali menghela napas panjang. Berlembar-lembar halaman menceritakan siksaan yang dialami O. Seakan-akan Eka Kurniawan menunjukkan pada kita betapa mengerikannya kehidupan monyet sirkus topeng dan hewan-hewan lainnya. O harus bertahan, agar bisa mencapai cita-cita bersama kekasihnya, Entang Kosasih, yaitu menjadi manusia. Ia harus berdiri tegak layaknya manusia atau menerima sabetan 3 lidi dari pawangnya. Tak jarang pula ia kelaparan.

O bersikeras tetap bertahan dengan pawang topeng monyet yang kejam, meskipun temannya, seekor anjing kecil bernama Kirik, sering menyuruhnya untuk kabur. Kirik juga berusaha keras untuk menyadarkan O, bahwa monyet adalah monyet dan nggak mungkin bisa berubah menjadi manusia. Namun, O tak bergeming.

Hidup tanpa risiko tak layak dijalani, Sayangku. (223)

Hingga suatu hari, pawang monyet dan Kirik menghilang. Ia harus hidup bersama Mimi Jamilah, seorang waria yang juga teman si pawang. Mereka mencari uang dengan mengamen dan menyanyikan lagu dari seorang Kaisar Dangdut. O sangat suka menyanyikan lagu-lagu sang Kaisar Dangdut, karena ia percaya bahwa Kaisar Dangdut tersebut adalah kekasihnya yang telah berhasil menjadi manusia. Ketika O akhirnya bertemu dengan Kaisar Dangdut, semakin banyak kejadian di luar dugaan yang membuat saya memekik, “Oh!!!!”.

Novel ini tak hanya bercerita tentang O. Di dalamnya ada pula kisah masing-masing tokoh yang terlibat. Tokoh-tokoh tersebut bercerita dari sudut pandang sendiri-sendiri, bahkan sebuah kaleng sarden punya cerita hidup yang menarik dalam novel ini.

[image]

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *