Senja berbalut kabut di Paralayang dan Omah Kayu, Pujon yang bikin lupa pulang

Sejatinya saya ini bukan penikmat senja, mengejarnya saja saya ogah. Mending mengejar rupiah, eh. Namun, siapa sih yang nggak terlena dengan pesona fenomena langit berwarna jingga ini? Saya yang lebih suka kruntelan dalam selimut aja dibuat terpana olehnya.

Alhamdulillahnya, Sabtu kemarin saya dapat kesempatan dolan sama komunitas blogger Malang Citizen. Salah satu agenda kami adalah mengunjungi Paralayang dan Omah Kayu. Siapa yang nggak kenal dengan dua objek wisata hits Kota Pujon tersebut? Lokasinya yang ada di puncak gunung menjadi nilai plus bagi para penikmat senja.

Saat menginjakkan kaki di sana sebenarnya saya sedikit kecewa, sore itu mendung pekat menggantung dan saya was-was kalau tiba-tiba turun hujan. Wes males pokok e! Namun, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Cuaca mendung tak menghalangi dua objek wisata tersebut menonjolkan keelokannya. Paralayang dan Omah Kayu tetap memikat meski dirundung mendung. Rasa kecewa pun lenyap seketika.

Omah Kayu, Penginapan Murah Dengan Pemandangan Apik

Suasana dingin memang langsung menyergap ketika tiba di puncak Gunung Banyak. Untung saat itu saya jalan bersama partner hidup, jadi bisa… ah sudahlah! Tujuan pertama kami adalah ke Omah Kayu. Waktu itu kami harus bergegas, karena Omah Kayu sudah hampir tutup. For Your Information,Omah Kayu beroperasi mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore. Untungnya, kami yang sampai di sana saat hampir tutup mendapat dispensasi tambahan waktu setengah jam lagi.

suasana-berkabut-omah-kayu
Suasana berkabut omah kayu

Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan dong, segera kami bayar tiket masuk seharga 5 ribu perak dan langsung menggila mencari spot-spot apik untuk berswafoto. Mencari angle yang unik jadi tantangan tersendiri bagi kami, karena saat itu Omah Kayu sedang berselimut kabut tebal. Bagi saya yang masih hijau dalam dunia fotografi, kabut tebal adalah kendala yang sepertinya nggak mungkin untuk ditaklukkan. Saya was-was kalai hasil jepretan dari kamera smartphone ini kurang eye catching. Lalu bagaimana hasilnya? Mantap jiwa! Meskipun nggak bagus-bagus amat,  foto Omah Kayu yang berkabut kini berjajar rapi menghias feed Instagram saya. Penasaran? Cek di @budiono27.

Melihat pemandangan yang menyegarkan mata itu rasanya nggak mau pulang, sempat kepikiran kalau suatu hari mau nginep di sini. Eh, gayung bersambut! Omah Kayu ternyata masih juga difungsikan sebagai penginapan lho. Semalamnya 350 ribu. Hmmmmmm. Lumayan ini, bisa istirahat di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota dan berhawa segar. Saat bangun dari tidur, juga disambut dengan panorama yang luar biasa indahnya.

Aura Senja yang Menghangatkan di Paralayang Gunung Banyak

senja-paralayang-gunung-banyak-batu
Senja di paralayang Gunung Banyak

Setelah puas mengunjungi Omah Kayu, kami lalu berpindah ke Paralayang. Suasana sore yang mendung dan berkabut nggak bikin kami jiper. Dengan semangat 45, kami tetap bersuka cita menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata. Kalau kamu sempat melihatnya, pasti berdecak kagum dan memuja Sang Pencipta.

Belum puas menikmati panorama gunung yang tertutup kabut, kami langsung dibuat ternganga dengan kemunculan semburat kemerahan di langit. Senja sore itu kemudian disusul dengan kerlap-kerlip lampu kota yang terlihat dari ketinggian. Dinginnya hawa di lokasi wisata paralayang sore itu perlahan-lahan lenyap seiring dengan obrolan kami yang semakin hangat.

 

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *