Dancok Cafe iki njanc*ki tenan!

“He! Lambemu!”

Tenang rek. Itu saya nggak bermaksud menghujat atau mendiskreditkan Dancok Café. Sumpah! Njancuki itu maksudnya café ini bener-bener recommended buat sampeyan-sampeyan yang gaul, suka kuliner, dan alam bebas.

Dancok Café termasuk bagian dari objek wisata Coban Rondo. Nama Dancok sendiri juga bukan misuh lho, tapi sebuah akronim dari Daun Coklat. Yup, menu andalan Dancok Café ini memang coklat yang rasanya, hemmmmmm haucek! Menurut yang suka coklat lho ya. Kala saya mah kurang suka.

view-dancok-cafe
View Dancok Cafe

Saya lebih menikmati teh alami yang dibuat dari daun eucalyptus. Teh ini sangat sedap karena dibuat dari daun eucalyptus asli, nggak ekstrak-ekstrakan. Itu-tuh daun yang biasanya dibikin minyak kayu putih. Karena itu rasanya seger sekaligus bikin hangat tubuh, cocok untuk suasana Coban Rondo yang dinginnya menusuk tulang.

Owner Dancok Café, Mas Iwan, menggaggas pembukaan café ini bersama ke-5 temannya dari asas coba-coba. Tak dinyana, Dancok Café mendapat perhatian yang WOW dari para penongki-nongki syantik. Pengunjung Dancok Café membludak mulai dari 100 sampai 150 orang per harinya, saat weekend pengunjung makin melonjak jadi 200 hingga 250 orang.

Sebabnya tak lain adalah karena keunikan café ini. Dancok Café memiliki konsep nature atau alam, di mana sampeyan bisa ngopi-ngopi sembari menikmati suasana alam terbuka di hutan Coban Rondo. Rasanya sejuk-sejuk gimana gitu. Kalau dikira harganya menjulang setinggi pohon, oh sampeyan salah besar! Menu-menu di Dancok Café ini harganya sangat bersahabat. Kisaran harga menu Dancok Café mulai dari 7 ribu rupiah, hingga yang paling mahal 18 ribu rupiah. Mantap jiwa, kan?

menu-makanan-dancok-cafe
Menu makanan Dancok Cafe

Seperti namanya, yang ingin dijual Dancok Café adalah coklat. Sampeyan bisa menikmati berbagai macam minuman dan makanan rasa coklat, seperti kopi cok dan banana cok. Lagi-lagi itu bukan misuh ya. Ada lagi makanan yang diberi nama Tahu Dancok. Bener-bener nggak salah kalau ngasi nama, rasa tahunya bener-bener njancuki. Nggak misuh lho ya. Pedesnya maksimal, apalagi kalau sampeyan pas mlethus cabe ijonya. Aduh mak!

Nama Dancok sendiri dipilih karena ingin menimbulkan rasa gatel di kuping. Kalau sampeyan denger berkali-kali Dancok, Dancok, Dancok. Pasti gatel dan bertanya-tanya, “Ngapain sih ini kok misuh-misuh terus?” Sampeyan salah lagi, tapi sekarang sudah berada di jalur yang tepat dengan membaca ulasan saya.

hammock-dancok-cafe
Hammock Dancok Cafe

Selanjutnya pasti kepo to? Tak kasih tau, Dancok Café ini buka mulai jam 09.00 sampai 17.00, khusus weekend sampai jam 18.00. Untuk masuk ke Dancok Café, sampeyan cukup bayar upeti sebesar 2.500 rupiah saja. Jancuk murah! Sekali lagi bukan misuh. Di Dancok Café sampeyan juga bisa selfie atau wefie di spot-spot yang instagrammable banget. Lumayan kan biar feed IG sampeyan nyentrik.

Jangan lupa juga untuk santai-santai di hammock yang sudah disediakan di sana. Sampeyan nggak perlu keluar uang lagi buat hammock, tinggal duduk dan berayun. Enak to? Makanya sampeyan ini kalau ‘Nggak Dancok, Nggak Mbois’. Ingat, bukan misuh!

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *