Ketika berbeda jadi masalah keluarga

Menjadi berbeda itu bukan hal yang salah. Malah menurut saya, orang yang berani memilih persimpangan lain itu berbeda. Yaiyalah, maksudnya patut di-Like. Mereka nggak asal ikut aja, tapi punya free will sendiri.

Yang menjadi masalah adalah, ketika perbedaan tersebut dianggap hal yang buruk. Sebut saja salah satunya keluar dari kepercayaan. Ah, membahas hal ini harus sering-sering mengambil napas panjang dulu. Sampeyan tahu, belum-belum saja napas saya sudah sesak.

Tunggu dulu. Tarik napas.

Nah, bismillah. Di Indonesia yang menganut paham demokrasi ini, ternyata masih juga memandang hal-hal tersebut tabu. Beberapa hal seperti kepercayaan masih sering dipertentangkan. Padahal kan, memilih kepercayaan seperti memilih pasangan, selera orang beda-beda. Kalau menurut doski, kepercayaan A lebih cocok, why not? Yang menjalani siapa yang ribut siapa. Namun nggak bisa dipungkiri, kalau urusannya dengan keluarga lain lagi ceritanya.

Berbeda gerakan

Tarik napas.

Kebanyakan orang Indonesia mendapatkan kepercayaannya turun temurun dari orang tua. Sejak kecil sudah ditanamkan nilai-nilai yang berlaku pada kepercayaan tersebut. Sayangnya nggak semua orang tua berhasil menanamkan nilai-nilai tersebut dengan baik pada anak-anaknya. Akhirnya hal tersebut membuat sang anak memandang kepercayaan lain itu jelek. Masuk neraka!

Stigma yang melekat tersebut akhirnya terbawa hingga masa akil baligh. Jika memiliki momongan, kemungkinan sistem mendidik anak sendiri sama dengan cara orang tuanya. Turns out, si anak saat dewasa memilih kepercayaan lain. Beberapa anak ada yang terbuka mengakui pilihannya, meskipun resikonya dicaci maki. Kebanyakan memilih bungkam.

Mereka lebih memilih berkumpul dengan teman-teman yang senasib seperjuangan. Alhamdulillah kalau teman-temannya itu berpandangan positif. Lha kalo kejebus ke mereka yang berpandangan negative bagaimana? Lak sama saja to jadinya. Aduh aduh aduh!

Melihat fenomena ini saya sendiri jadi sesak. Sebentar. Tarik napas lagi.

Betapa kebebasan sendiri terkekang oleh keluarga. Padahal kan seharusnya, kan nggak kayak gini. Ah, baper jadinya saya mah. Menanggapi ini semua, saya hanya bisa berkata, ‘Mohon bersabar, ini ujian.’ Entah ujian dari siapa.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *