Istirahatlah Kata-Kata: mikir simbol bikin pusing kepala

kaum gelandangan yang mendengkur pulas seperti
huruf kanji kumal di emper-emper pertokoan cina
tak pernah terjamah tangan-tangan puisi kita
sebab tak mengandung nilai sastra

keadilan adalah duniawi
bukan tanah ladang puisi
korupsi jangan terusik oleh puisi
puisi cuma mencari jati diri
jangan dibuka mata batin bagi kemiskinan
dan penindasan
puisi jangan menuntut yang bukan-bukan

Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata

Mantap! Sampeyan yang membaca puisi tersebut, sekarang coba pegang dada. Deg-deg an nggak? Kalau nggak, sampeyan mungkin perlu mendengarkan pembacaan puisi yang berjudul Penyair Adalah Pertapa yang Agung dalam film Isirahatlah Kata-Kata.

Setelah ikut-ikutan Sheila on 7 untuk berhenti berharap, ternyata Tuhan berkata lain. Film Istirahatlah Kata-Kata akhirnya diputar juga di Kota Malang. Saya yang ngidamnya ngalah-ngalahin ibu hamil langsung lah reservasi untuk mendapatkan kursi penonton film ini.

Yaaah, kecewa berat sih enggak, suka banget juga enggak. Film Istirahatlah Kata-Kata yang ramai dipuji-puji ini bagi saya meninggalkan kesan yang biasa-biasa saja. Sepanjang film saya malah berpikir keras tentang maksud dari beberapa puisi, scene dan gambar. Kok kayaknya, Yosep Anggi Noen menyelipkan begitu banyak simbol di dalam film Istirahatlah Kata-Kata ini.

Simbol-simbol dalam Istirahatlah Kata-Kata

Yang paling mudah untuk saya interpretasi adalah puisi di atas. Kalau menurut saya sih, puisi tersebut menunjukkan kerendahhatian sebuah puisi. Ia ada untuk melukiskan hati manusia. Yang membaca boleh menerka-nerka apa maksudnya, tapi bukan kemudian bertindak pro atau kontra sama isinya. Hemmmmm, semacam ahli puisi aja saya nih.

Behind the scene Istirahatlah Kata-Kata

Selanjutnya yang juga sangat mudah untuk dicerna otak saya ini adalah adegan di mana Wiji bertemu istrinya di kamar hotel. Untuk adegan hotel-hotelan ini semua arti simbol langsung menyambar otak saya. Seperti Sipon yang memakai baju merah melambangkan gairah. Kemudian layar statis TV yang di shoot sejajar dengan kepala Wiji, berarti ia sudah nggak mikir apa-apa lagi. Atau bisa juga, ia sudah ngeres. Ah, itu otak saya yang ngeres.

Simbolisme selanjutnya yang berhasil saya pecahkan adalah lukisan The Last Supper yang dipertontonkan lama-lama dalam film Istirahatlah Kata-Kata ini. Mungkin, mungkin lho ya, lukisan ini ingin menunjukkan bahwa adegan makan yang sering ditunjukkan itu bisa jadi yang terakhir dilakukan Wiji. Mengingat doski sedang menjadi buronan aparat saat itu.

Itulah sedikit oleh-oleh dai menonton film Istirahatlah Kata-Kata kemarin. Kalau kata Hector Hawton dalam Filsafat yang Menghibur, ‘kepahaman terletak dalam interpretasi’, maka itulah yang berhasil saya tangkap dari film ini, Yang namanya interpretasi, tentunya tiap orang beda-beda to? Monggo yang mau mengungkapkan interpretasinya, coret-coret di komentar. Tenang, nggak bakal saya jadikan buronan kok. Paling saya kepo aja siapa sampeyan.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *