Kiss Me While I Sleep, memburu napas di medan perang dan ranjang

Kiss Me While I Sleep? Harlequin? Ogah ih!

Itulah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut saya ketika partner menyarankan untuk membaca Kiss Me While I Sleep.

Baca en, apik-apik

Partner saya ini memang nggak gampang menyerah. Karena itulah akhirnya ia hadir dalam hidup saya. Aduh emboh kah! Akhirnya saya ambil buku itu dan mulai membaca. Lalu? HUWOW! HOT. Saya suka sih ya, tapii…mari lanjutkan dulu.

Kiss Me While I Sleep

Memang pada dasarnya otak saya ini ngeres, jadi pas membaca kisah Lily Mansfield dan Lucas Swain fantasi liar berkali-kali muncul dalam kepala. Kedua insan manusia tersebut bertemu saat Lily sedang adu tembak dengan para pemburunya. Ya, Kiss Me While I Sleep ini berlatar belakang kisah pembunuh bayaran wanita, agen CIA, dan konspirasi virus flu burung.

Lily yang tengah melakukan balas dendam atas kematian seluruh ‘keluarga’-nya bertemu dengan Swain. Misi lelaki ini sendiri sebenarnya untuk meringkus Lily yang telah melanggar kode etik agen kontrak CIA . Namun tak dinyana, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.

Bersinggungan dengan hidup Lily, banyak fakta yang akhirnya diketahu Swain mengenai gangster Salvatore. Kelompok kriminal yang hendak dihancurkan Lily ini ternyata tengah menyiapkan sesuatu demi meraup untung besar. Mereka berencana menyebarkan virus yang mengancam nyawa saya, sampeyan, kita. Kemudian di tengah endemi virus tersebut, mereka hendak memonopoli vaksin flu burung yang telah disiapkan.

Klimaks Kiss Me While I Sleep

Berciuman

Swain berbalik dari yang awalnya meringkus, kemudian membungkus Lily dalam pelukan. Ah, membantu Lily maksudnya. Dimulailah petualangan dua insan yang sedang dimabuk asmara ini untuk menghancurkan niat busuk gangster Salvatore. Tak lupa pula petualangan mereka di atas ranjang. Ya, harlequin memang tak lepas dari urusan ranjang. Seperti akhir adegan ranjang yang kadang memuaskan dan kadang biasa saja. Kiss Me While I Sleep menyajikan cerita yang tak begitu hebat. Permainannya terlalu terburu-buru dan memiliki klimaks yang, ‘ealah’.

Alasan saya bertahan sampai akhir membaca harlequin ini adalah karena adegan ranjang dan niat untuk mencoba genre novel baru. Dalam Kiss Me While I Sleep ini juga terselip beberapa fakta konspirasi yang juga menjadi alasan saya bertahan membaca. Ah, ternyata harlequin bisa berat juga ya. Sedikit intipannya adalah ini:

Ya, benar. Itu hal klasik. Kendalikan suplai, kemudian ciptakan permintaan. Seperti yang dilakukan De Beers dengan berlian; mereka berhati-hati membatasi jumlah berlian yang tersedia di pasaran, dan mengatur agar harganya tetap tinggi. Berlian sama sekali tidak langka, tapi suplainya dikontrol. Situasinya kurang lebih sama dengan minyak bumi dan OPEC, kecuali dalam masalah minyak, dunia telah menciptakan permintaannya sendiri.

Begitulah kiranya. Buku dengan tebal 488 halaman karangan Linda Howard ini rasanya cocok buat sampeyan yang sudah lama tak membaca bacaan ringan dan lama tak dijamah. Untuk adegan ranjang, kejar-kejaran, dan konspirasi menarik saya kasih rating 3 deh dari 5.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *