Film Split: gambaran efek pelecehan seksual

Setiap manusia itu memiliki kepribadian ganda. Ya, sampeyan nggak perlu kaget. Itu dulu pernah saya baca di sebuah jurnal entah apa namanya. Kira-kira sekitar bertahun-tahun yang lalu. Di sana disebutkan, bahwa setiap manusia mempunyai kepribadian lebih dari satu. Kok bisa? Dari mana?

Dilihat dari saat kita berkumpul dengan orang lain. Coba deh, saat kita lagi bareng-bareng dengan golongan A, pasti pribadi kita menjadi A. Namun, saat satu tempat golongan B, kepribadian kita belum tentu A, bisa jadi B, C, D, E, F, G, H, I, J, halah kalau diterusin bisa sampai Z. Gampangnya, kalau kita lagi bareng orang-orang A biasanya kita ramai, tapi pas bareng-bareng orang B, kita cenderung menarik diri. Ketika orang lain dimintai pendapat tentang bagaimana sifat kita pun, pasti jawaban mereka berbeda-beda. Nah, kira-kira begitulah penggambaran kepribadian ganda dalam manusia.

3 kepribadian

Ada beberapa yang cuma gitu aja alias nggak mengganggu banget, tapi ada juga yang sampai jadi penyakit. Kebetulan saya barusan nonton film Split yang ceritanya tentang kepribadian banyak. Film Split yang disutradarai M. Night Shyamalan ini udah nggak perlu diragukan lagi kehororrannya. Meskipun ini bukan film horror, tapi cukuplah mencekam tanpa adanya penampakan.

Berkisah tentang Kevin (James McAvoy) yang tubuh dan pikirannya dihuni oleh ‘23 sosok’. Salah satu ‘sosok’ ini kemudian menculik 3 orang gadis untuk disekap dan dikorbankan. Pada siapa? Sosok ke-24, The Beast. Sudah cukup ya spoilernya? Cukup banget!

Pesan moral mendalam dalam film Split

Jalinan cerita film Split sendiri mempunyai makna yang lebih dalam dari sekedar thriller psikologi. Film Split ingin menyampaikan sebuah pesan krusial, yaitu efek dari perbuatan pelecehan seksual. Dua tokoh di film Split ini adalah korban orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ironisnya pelecehan tersebut mereka terima dari keluarga sendiri. Hal tersebut membuat mereka hidup dalam tempurung kura-kura dan selalu berusaha keras membangun dinding pertahanan. Namun, dalam mempertahankan diri mereka memilih jalan yang bersimpangan.

Casey berbicara dengan Hedwig

Salah satu tokohnya tetap berusaha menjaga kewarasan selama hidup berdampingan dengan momok bernama sexual abuse. Sedangkan tokoh lainnya memecah kepribadian dengan monster sebagai pelindung tertingginya sebagai upaya melindungi diri dari dunia luar.

M. Night Shyamalan juga tak lupa menyelipkan pesan cantik pada mereka para korban pelecehan. Lewat karakter Dr. Fletcher, sampeyan bisa mengambil pelajaran bahwa sedalam-dalamnya kita tenggelam dalam problema, masih ada tempat untuk bergantung. Jangan ragu untuk mencari.

Hebatnya juga, sutradara yang memang dikenal dengan film yang selalu bikin dag dig dug ini juga menjadikan tokoh utama antagonisnya sebagai pembawa pesan. Ia mengingatkan kita, bahwa we are something. We are great. Make America great again. Eh, itu punya toko sebelah.

PS: ada kejutan di akhir film. Sumpah!

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *