I am Michael: manusia itu selalu berubah

Being different is suck! Setidaknya pikiran itu melekat pada benak sampeyan yang memiliki selera seksual lain daripada yang lain. Yah apa lacur, berbeda dari yang lain acap kali membuat kita menanggung beban berat dalam hidup. Aduh! Serasa hidup segan mati tak mampu aja.

Nah, lha kok pas kemarin ini saya habis nonton film yang judulnya I’am Michael. Film biopik aktivis gay Michael Glatze yang hidupnya berubah 180 derajat ini benar-benar bisa memacu semangat sampeyan yang merasa berbeda. Kenapa? Karena eh karena beberapa hal berikut ini.

James Franco gitu loh!

James Franco

Pemeran utama dalam film ini adalah James Franco. Yah, siapa sih yang meragukan akting aktor ganteng yang belakangan gemar main film bertemakan gay ini? Menurut saya James Franco berhasil memerankan karakter gay dengan ciamik, meskipun mungkin dia straight. Detail-detail kecil seperti mengelus-elus dada Mas Zachary Quinto pun tak lewat darinya. Ah, benar-benar ya. Jadi pengen dielus-elus. LHO!

I am Michael showed us that people change

Quote I am Michael

Kalau melihat tokoh Michael yang gay dan ujug-ujug jadi ketagihan baca Injil, mungkin sampeyan akan berdecak kagum, tapi dalam benak Bennet, yang tercetus adalah, ‘Ngimpi opo sesayanganku iki?’ Namun, yah, begitulah adanya. Manusia itu bisa berubah kapan saja. Kadang disertai tanda-tanda kecil dan bertahap, kadang nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba berubah gitu aja jadi power ranger pink. Yang kemarin pakai jilbab, tiba-tiba lepas jilbab. Yang kemarin rajin ke gereja, eh tiba-tiba besoknya ke wihara. Yang dulu percaya Tuhan, tiba-tiba atheis.Sampeyan kalau punya teman seperti itu pastilah shock.  Ya wajar, tapi segeralah beradaptasi. Nggak mudah sih memang, tapi berusahalah. Contohlah kekasih Michael, si Bennet yang pelan-pelan legowo melepas Michael. Ah, tissue mana tissue?

Sadar itu sejatinya nggak perlu nunggu ‘disentil’

Michael dan istrinya di gereja

Yah, ibadah dan syalalala-nya memang hak masing-masing pribadi ya, tapi kalau melihat film I am Michael ini kita akan mendapat pencerahan mengenai hal ini. Manusia memang begitulah adanya ya, kita baru sadar setelah diingatkan orang lain. Kalau belum terlambat sih, masih bisa diperbaiki, tapi kalau sudah lewat? Emboh kah! Lebih parah lagi kalau kita lalai akan dosa-dosa tapi nggak sadar-sadar, terus disentil Tuhan. Ya, kalau sentilannya ringan, kalau berat? Naudzubillah.

Nggak ada yang salah dengan cinta

Michael dan Bennet

Ah, bicara masalah LGBT itu agak sensitif. Kalau menurut saya lho ya, yang namanya cinta yawes cinta saja. Jangan dicap salah. Kalaupun menurut sampeyan salah dan ingin membenarkan ada jalannya kok. Caranya adalah dengan cinta juga. Tsah! Ya, dekatilah orang yang ingin sampeyan ingatkan. Cintailah dia juga. Katakan pelan-pelan dan jangan terkesan menghakimi. Saya rasa sampeyan pasti bisa melakukan itu semua ya. Semangat! Muah!

Menjalani kehidupan LGBT itu susah saudara-saudara, karena itu jangan ditambah dengan hujatan0hujatan yang… aduh emboh kah! Memang kehidupan gay itu penuh hura-hura seperti yang ditampilkan di TV dan tak terkecuali di I am Michael ini, tapi mereka juga manusia seperti juga rocker, mereka punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *