The Young Pope diam-diam mengajarkan 3 hal ini pada kita

Baru-baru ini saya nemu serial barat yang bagus, judulnya The Young Pope. Wush! Tontonan yang cocok banget di tengah dunia yang kian semarak akan pesta pora SARA. Haha. Bukan bermaksud menambah panas suasana lho ya, tapi memang begitu kan adanya?

The Young Pope yang tayang di HBO ini udah selesai putaran pertamanya, season selanjutnya entah kapan. Saya sendiri nontonnya masih sampai episode 3 season 1, tapi udah gatel ingin berbagi sama sampeyan apa saja moral of the story yang bisa kita petik dari serial The Young Pope ini. Diam-diam, dari serial yang dibintangi Jude Law ini saya berhasil mengantongi beberapa hal bagus ini.

1. Pemuka agama juga manusia

Pemuka agama juga manusia

Pertama adalah tentang manusia. Tsah! Yak, kalau kata Bunda Dorce, manusia adalah tempatnya salah, begitu juga pemuka agama. Semenenangkan apapun ceramah-ceramahnya, jangan lupa kalau beliau-beliau itu juga manusia. Mereka pasti punya sifat manusiawi seperti marah, sedih, suka ngupil, rumpik-rumpik dan lain sebagainya. Saat ceramah, mungkin mereka terlihat berwibawa, wes flawless kayak produk kecantikan pokok e, tapi jangan langsung lupa kalau mereka juga manusia yang punya kekurangan. Jadi, biar sampeyan nggak kuciwo ketika tau pemuka agama yang dikagumi tiba-tiba ‘nyeleneh’, ingat-ingatlah kata Bunda Dorce.

2. Usia tak menjamin tingkat kebijakan seseorang

Pak Spencer Guru The Young Pope

Kalau lihat merk Cap Orang Tua, apa yang ada di benak sampeyan? Orang tua itu bijak? Sabar? Nggak mudah marah? Itu cuma malaikat yang punya! Nyatanya nggak kayak gitu. Coba tengok tokoh Spencer yang jadi gurunya Si The Young Pope. Bagaimana reaksinya ketika doski nggak kepilih jadi Pope? Marah dan ingin bunuh diri! Itu mah wajar, tapi selanjutnya pas Si Pope minta tolong doski buat tetap jadi pembimbingnya, Pak Spencer ini malah nolak mentah-mentah sambil ngomong kalau nggak mau berada di bawah ketiak muridnya. Naudzubillah! Kutandai tingkah laku Pak Spencer ini ya, semoga kita nggak kayak begitu saat tua nanti.

3. Menahan pamer adalah juga ibadah

Pamer adalah virus yang menjangkiti manusia masa kini, termasuk saya. Hehe. Nah, dari Pope muda ini kita bisa belajar untuk mengerem sedikit nafsu pamer. Caranya? Ambil pelajaran dari sifat Pope yang nggak mau wajahnya dipublikasikan ke khalayak ramai. Ya, Lenny si Pope muda ini paling nggak suka kalau wajahnya diketahui oleh publik.

Waktu pidato

Alasannya sih dengan begitu, ia bisa lebih fokus memberi pelayanan terbaik bagi umatnya. Kelakuannya tersebut terinspirasi oleh banyak orang terkenal yang wajahnya nggak diketahui publik, salah satunya Daft Punk. Coba deh kalau pas rekreasi sampeyan tahan dulu share-share di sosial media. Selfie? Boleh! Foto-foto pemandangan? Wajib! Tapi sharenya nanti aja. Dijamin, sampeyan pasti menikmati liburan. Kecuali kalau lagi reportase lho ya, jangan leha-leha syantik. Kerjo kerjo! Hehe

Yup, sementara 3 hal itu deh yang bisa saya share dari menonton The Young Pope. Kalau nggak ada aral melintang, saya lanjutin di postingan selanjutnya ya. *lanjut nonton sambil selimutan*

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *