Jakarta Undercover, menyibak dunia malam tanpa malu-malu

Setelah sekian lama akhirnya saya memberanikan diri nonton film karya anak negeri di layar lebar. Dan hati saya jatuh pada film Jakarta Undercover yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Moammar Emka. Entah kenapa, saya yang biasanya adem ayem ketika ada film Indonesia tayang di bioakop, kok tiba-tiba tergelitik ingin pergi nonton Jakarta Undercover. Mungkin karena salah satu temanya sesuai dengan concern saya, yaitu LGBT. Selain itu, novel Jakarta Undercover juga sangat menarik perhatian saya. Berhubung nggak tayang di Malang, saya rela ke Surabaya buat memuaskan rasa penasaran akan film ini.

Jakarta Undercover mengangkat tema-tema yang masih dianggap tabu

Tiket nonton Jakarta Undercover

Jakarta Undercover dibuka dengan sebuah scene yang memaksa kita percaya akan apa yang diceritakan dalam film. Wanti-wanti tersebut disampaikan oleh seorang politisi, yang nantinya menjadi twist dari rangkaian cerita berdurasi sekitar 2 jam ini.

Secara global, Jakarta Undercover bercerita mengenai liarnya dunia malam dari sudut pandang seorang jurnalis asal Jawa Timur bernama Pras (Oka Antara). Pras kecewa berat pada media tempatnya bekerja karena hanya menulis artikel ‘titipan’ saja. Kekecewaam tersebut ia lampiaskan dengan nggak menghiraukan deadline tulisan dan membuatnya menjadi bualan sang bos.

Namun, setelah mengenal Awink (Ganindra Bimo), seorang go go boy di sebuah kelab malam, badai ide menerpa pikirannya dengan tiba-tiba. Ide-ide tersebut semakin deras ketika ia berteman dengan Yoga (Baim Wong), seorang pengedar narkoba. Lewat lingkaran pertemanan yang akrab dengan dunia malam tersebut, maka Pras memutuskan untuk menorehkan lika liku kelam dunia malam dalam sebuah seri berjudul Jakarta Undercover.

Jakarta Undercover tampil berani dengan menyuguhkan adegan panas yang berbeda

Adegan dalam Jakarta Undercover

Jakarta Undercover boleh dibilang sebagai film lokal yang lain daripada yang lain. Seperti yang kita ketahui, adegan seks yang dipertontonkan dalam film Indonesia selama ini hanyalah sebatas ‘dalam selimut’ saja, tapi Jakarta Undercover berani ‘keluar selimut’. Sumpah nggak bohong.

Selama saya menonton film Indonesia, baru pertama kali melihat adegan panas antar tokohnya disajikan gamblang di layar lebar. Sedikit spoiler nih ya, adegan panas dalam Jakarta Undercover dilakoni oleh tokoh Yoga dan Laura (Tiara Eve). Vulgar-vulgar amat sih nggak, tapi menurut saya scene Woman On Top *eh* tersebut sangat berani.

Jakarta Undercover menyibak dunia malam tanpa malu-malu

Jakarta Undercovers’s scene

Namun sayangnya, Jakarta Undercover memiliki plot yang kurang rapi. Jalannya cerita terkesan terburu-buru, sehingga konflik batin tokoh-tokohnya kurang mengena. Padahal menurut saya, di situlah kekuatan film besutan Fajar Nugros ini. Ia menyorot kecamuk batin para pelaku dunia malam, seperti misalnya tokoh Sasha (Nikita Mirzani) yang nakal, tapi memendam kesedihan karena profesinya. Adegan curhatan Sasha pada salah satu scene masih kurang mengena kurang mengena.

Kita memang nggak begitu mengenal dunia malam, jadi bisa dengan mudah menghakimi profesi-profesi seperti wanita tuna susila, kaum gay dan transgender, juga pengedar narkoba. Profesi-profesi tersebut memang nggak disarankan, tapi dalam hati pelakunya sendiri pasti berkecamuk berbagai macam hal. Sebagian dari mereka malu dengan profesinya, hingga mengarang-ngarang cerita tentang kesibukan yang sedang dijalaninya. Ada yang melakoninya dengan berat, karena masih harus membayar hutang pada sang mami yang sudah menghujaninya dengan kemewahan. Jadi, who are we to judge?

Overall, Jakarta Undercover adalah film Indonesia yang berani menampilkan sisi malam Jakarta tanpa malu-malu.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *