Logan, perpisahan Hugh Jackman yang dramatis

Saya sebenarnya bukan pemuja film superhero. Ah, buat apa nonton film yang isinya kelahi-kelahi melulu? Mending nonton drama deh. Hehe. Tapi, setelah nonton serial Agents of Shield saya jadi terhipnotis dalam pesona para manusia dengan kekuatan super serta sajian trik dan intrik dalam kisahnya.

Salah satu yang berhasil melekat dalam hati saya adalah X-Men. Kenapa? Karena dari kecil saya sudah mengikuti serial animasinya. Bagi saya X-Men adalah film superhero yang unik dengan mutan-mutan alaminya. Yah, beberapa ada sih yang karena eksperimen seperti Wolverine contohnya.

Ngomong-ngomong soal Wolverine, seri terakhirnya yang berjudul Logan udah diputer lho di bioskop. Udah nonton belum? Kalau belum, simak reviewnya dulu deh.

Logan berlatar tahun 2029, di mana para mutan sudah hampir nggak ada. Ia mempertahankan hidup dengan menjadi sopir taksi online. Sangat kekinian ya? Logan (Hugh Jackman) tengah mengalami konflik batin, sehingga ia melarikan diri dengan menjadi pecandu alkohol. Akibatnya tubuhnya tak mampu dengan cepat menyembuhkan diri sendiri dan ia didera penyakit.

Singkat cerita, ia bersama Professor Charles Xavier (Patrick Stewart) berusaha menyelamatkan Laura Dafne Keen), bocah mutan yang dibuat dari DNA Logan. Ya, secara biologis Laura adalah anak dari Logan. Cerita ini jadi mengingatkan saya akan bayi-bayi donor sperma yang lahir dan tumbuh besar di keluarga lain. Mungkin kehidupan mereka bahagia, tapi deep down mereka juga ingin tahu siapa ayah biologisnya. Nggak jarang kan kita baca berita seorang anak yang mencari ayah atau saudara kandungnya?

Logan dan Laura

Berbeda dengan nasib mereka, Laura dilahirkan untuk dijadikan mesin pembunuh. Namun, sebuah insiden terjadi di Transigen, ‘pabrikan’ Laura. Anak-anak mutan yang dianggap benda ini berontak, sehingga Transigen terpaksa membunuh mereka yang tak berguna. Nggak tinggal diam, para perawat berusaha menyelamatkan anak-anak ini. Salah satunya adalah Laura.

Sebelum bertemu dengan Logan, Laura sudah memiliki misi sendiri yaitu menemukan Eden, tempat aman bagi anak mutan sepertinya. Maka dengan berat hati Logan mengantar Laura menuju Eden. Selama perjalanan, hidup mereka dipermainkan nasib.

Logan lebih dari film superhero. James Mangold berhasil membuat Logan menjadi lebih deep dan kaya makna. Menyaksikan Logan seperti menyadarkan kita, bahwa sekuat-kuatnya manusia masih punya kelemahan juga. Itulah yang membuat Logan berbeda dari film superhero sebelum-sebelumnya.

Logan mengandalkan akting pertarungan alami dari para aktornya, film ini ditampilkan dengan minim CGI. Siap-siap juga dibuat mual-mual karena banyaknya darah yang tumpah. Jangan lupa pula siapkan tissue untuk menyambut akhir yang dramatis.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

4 Comments

  1. Tosss, aku juga suka bangetttt ama X-Men. Tokoh faveku tuh Jean Grey si Dark Phoenix karena dia mewakili manusia bahwa kita punya sisi baik dan buruk.
    Kalau kamu tokoh fave-nya siapa Yok?
    Soal Logan, dia emang diistimewakan ya di antara tokoh2 X-Men sampai dibuatin spin off sendiri.

    1. Yay! Kalo aku suka Storm mas, kayak nya enak kalo bisa mengendalikan cuaca. Hehe. He eng. Wolverine memang istimewa, kekuatan dan pribadinya menarik

  2. Love every word of this review, bang!!! Blog abang ini cita-cita blog aku banget nih nantinya, sekarang lagi meniti pelan pelan biar blognya makin kece sekece blog abang!!

    aku bakal sering sering main kesini ya bang! Mohon bantuannya kalau saya banyak tanya tanya soal blog! main juga ke blog ane bang kalau sempet!

Leave a Reply to aduhembohkah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *