3 Hal ini bikin gonjang-ganjing hubungan pertemanan

Nobody is perfect. Tulisan kali ini mengandung sedikit curhat, jadi sebelum sampeyan muntah-muntah membaca curhatan saya, lebih baik segera buka tulisan lainnya aja. Baca cerita saya pas dolen ke Dancok Café juga boleh.
Oke saya mulai. Dulu saya punya temen dekat. Pertemanan kami erat banget. Ke mana-mana selalu bersama, sampai-sampai para dosen mengira kami pacaran. Ah! Kami cocok hampir dalam semuanya, fashion, suka nongkrong, hobi rumpik, banyak cocoknya wes.

Namun, semenjak saya punya sesayangan hubungan pertemanan kami agak renggang. Apalagi setelah ada konflik yang membuatnya mundur teratur dari dunia saya. Kalau dirunut-runut, kami berdua punya andil atas keretakan hubungan per-sohiban ini. Nah, lewat tulisan ini saya pengin share kira-kira apa sih yang menjadi penyebab gonjang-ganjing hubungan pertemanan kami.

1. Berkurangnya intensitas komunikasi

Duduk bersama
Duduk bersama

Komunikasi sebenarnya nggak penting, tapi puwenting banget. Komunikasi yang lancar akan membuahkan sebuah hubungan baik. Nggak Cuma antar sesayangan aja, tapi juga dalam sebuah pertemanan.

Benarlah sebuah ungkapan ‘dunia milik berdua’. Saya sempat mengalaminya. Setelah bersama dengan orang yang saya cintai *sepreet*, saya mulai menarik diri dari dunia pertemanan. Lebih suka indehoy yang iya-iya bersama someone itu *gak boleh ngeres*. Jadinya, sohib saya itu jengkel kali ya dan mulai jarang ajak-ajak saya untuk sekedar hang out rasan-rasan orang lain.

Setelah beberapa lama. saya sadar dan mulai mau-mau kucing diajak ngopi-ngopi. Tapi yah, sesuatu tidak selalu bisa tetap seperti dulu. Everybody change, sekarang pun undangan ngopi dari sohib saya itu nggak pernah saya dapatkan, pun saya juga sudah nggak pernah ngajak doski ngopi. Jadi bisa langsung memetik hikmah to dari sini?

2. Addressing someone you love to your best friend

Kucing bertengkar
Kucing bertengkar

Maksudnya kira-kira begini, usia saya dan pacar saya kala itu tak sama. Doski lebih tua, jadi teman-teman saya memanggilnya dengan sapaan ‘mbak’. Suatu ketika saya keceplosan menyebut namanya saja ketika bercerita di depan sahabat saya itu.

Reaksi yang saya terima benar-benar nggak terduga. Dia marah. What the f*ck! Salah ya kalau saya adrresing her without embel-embel mbak? Saya juga nggak terima dong dia marah ke saya. Marah pulalah saya, dan terjadi adu panco, eh otot. Sejak saat itu dia mulai menunjukkan perubahan perilaku.

Yah, sepele sih kelihatannya, tapi ternyata bagi sebagian orang hal tersebut bisa menimbulkan rasa nggak nyaman ya. Jadi, lihat-lihatlah sikon terlebih dahulu. Kalau sohib sampeyan orangnya santai-santai aja yawes alhamdulillah, kalau nggak begitu santai jangan dipaksakan, daripada kehilangan sebuah hubungan pertemanan.

3. Kurang buka-bukaan

Ngopi-ngopi
Ngopi-ngopi

Komunikasi yang baik belum tentu terbuka dan terbuka belum tentu bisa menjadi komunikasi yang baik. Halah ruwet to? Yah, namanya juga urusan dengan manusia, pasti ada ruwet-ruwetnya. Namun, bagi saya keterbukaan adalah hal penting.

Saya mencoba terbuka dengan mengajaknya bicara dari hati-ke hati sembari duduk manis. Saat itu saya percaya sohib saya sudah terbuka sepenuhnya, tapi mengutip kata mutiara idaman bos saya, “SATU JUTA PERSEN SALAH!”. Mungkin masih ada beberapa yang tak dia ungkapkan, jadinya hubungan pertemanan kami tetep saja berjarak dan bahkan semakin lebar.

Ah, mungkin saya juga kurang terbuka. Kejengkelan dan penghargaan saya padanya mungkin belum saya tumpahkan sepenuhnya. Jadi mas-mas, mbak-mbak yang dirahmati Tuhannya masing-masing, keterbukaan itu penting. Kalau ada yang kurang sreg, ajak ngobrol lagi. Jangan sampai cuma jengkel-jengkel saja dan malah ngobrolin teman sama orang lain. Nggak susah kok sebenernya, tinggal telepon, “He, aku butuh ngomong karo awakmu”. Janjian di suatu tempat dan mengobrollah.

Ya sudah, demikian curhatan saya. Harus saya akhiri sampai sini, ketimbang nanti nggedabrus ke mana-mana. Haha. Bukan maksud hati ingin menjelek-jelekan orang lain, saya cuma ingin berbagi dengan agar pertemanan sampeyan nggak bernasib seperti saya. Nobody is perfect, but trying to be the best for someone else is worth trying 😉

12 Comments

  1. Aku juga pernah ngalamin yang kaya gini. Ga ada konflik/masalah apa2, tau2 udah kaya orang asing gitu padahal dulu sahabatan kentel. Makanya sekarang males kalo temenan yang deket banget.

    • Semangat ya mbak! Pertemanan itu njelimet, tapi kita nggak boleh menyerah *kemudian jadi ranger pink* 😂😂😂

  2. Kalau aku sih cenderung terbuka sama teman, jadi kadang gr2 aku terbuka duluan, dia akhirnya merasa nyaman buat cerita lebih banyak. ‘Nyaman’ emang kayaknya faktor yg gk bisa dipungkiri dalam berteman.

    • Iya mas bener sekali itu, tapi ya kadang susah banget bikin oramg terbuka. Sabar aja kali ya kitanya. Hehe

  3. karena lagi puasa, terpaksa baca judulnya doank
    karena sama enjel udah dibilang bakalan muntah2, kan kalo munta di bulan puasa bakalan batal kan ya??
    ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*