TAN, sebuah novel yang menginspirasi

Tan Malaka? Nama tersebut terasa asing sekaligus akrab di telinga saya. Saya tahu, Tan Malaka adalah nama seorang pahlawan, tapi kayaknya bukan pahlawan nasional deh. Eh apa iya ya?

Kemudian sewaktu saya pergi main-main ke toko buku, mata ini bersirobok dengan sebuah alfabet besar di salah satu buku, ‘TAN’ begitu bunyinya. Setelah menimbang-nimbang, mampirlah saya ke kasir untuk menebus novel TAN karya Hendri Teja ini.

TAN sebuah novel yang menginspirasi

Tak kenal maka tak sayang, begitulah kata kebanyakan orang. Tan Malaka yang asing ditelinga saya, kini menjadi akrab. Saya semakin tertarik mengenal dirinya lebih dalam lagi setelah membaca novel ini. Nggak salah saya membawa pulang karya Hendri Teja ini. Tiap babnya membawa nuansa yang membangkitkan semangat.

Sepak terjang Tan berhasil dikemas dengan menarik dalam 5 kisah, 30 bab. Membaca kisah demi kisah dan bab demi bab nggak terasa lama, karena saya sangat menikmati alur yang diciptakan oleh Hendri Teja. Lewat karangannya ini, saya semakin mengenal Tan dan tertarik akan buah pikirannya.

Penuh diksi cantik dan enak dinikmati

Diksi menjadi tolok ukur saya akan bagus nggaknya sebuah buku. Saya yang notabene pecinta keindahan ini *pret!* memang lebih betah membaca buku yang memiliki diksi indah. Rasa-rasanya saya sudah lama nggak baca buku yang memiliki diksi bagus. Tan berhasil memuaskan saya akan kehausan kata-kata indah dan asing di telinga.

Berkali-kali saya dibuat berdecak kagum ketika menemukan diksi yang indah, atau mengernyitkan dahi ketika tak mengerti apa arti suatu kata. Namun, nggak perlu khawatir, Hendri Teja menyediakan catatan kaki untuk membantu kita memahaminya. Berhubung Tan ini adalah seorang keturunan Minang, jadi banyak pula istilah yang asing. Dengan demikian kita juga bisa belajar beberapa istilah dalam bahasa Minang. Oh iya, tambahan lagi beberapa peribahasa yang ciamik, baik dalam bahasa Indonesia, Minang, dan Belanda.

Kehidupan Tan yang penuh lika-liku

Dalam novel Tan ini, Hendri Teja memaparkan sejarah tanpa terasa menggurui. Lewat alur cerita, sejarah berjalan secara natural tanpa terkesan adanya kuliah atau pelajaran sejarah. Perjalanan Tan dikisahkan mulai ia kecil hingga tumbuh dewasa memperjuangkan hak kaum pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Menurutnya, kesejahteraan penduduk pribumi bisa tercapai, jika mereka mengenyam bangku sekolah dan banyak membaca. Tanpa babibubebo, saya mengamini buah pikiran Tan. Karena kegigihan perjuangannya tersebut, berkali-kali ia harus mau hidup dalam kesengsaraan, buronan, dan mencicipi dinginnya hotel prodeo. Hingga akhirnya ia tertangkap dan diasingkan ke Boven Digoel. Sayangnya disitulah kisah berakhir. Saya harus sabar menanti kelanjutan TAN.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

4 Comments

    1. Hahahaha. Ini novel sejarah, tapi gak berasa sejarah mbak. Malah campuran asmara, kegigihan, dan perjuangan

  1. Aduuh kayaknyaa ini kategori novel berat yaa ? Penasaran tapi sekarang kemampuanku membaca novel yang berat udah tergantikan dengan membaca kome di fb dan ig. Hwakaka. Toloooong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *