Belajar Mencintai Kambing, mengolah kejadian sehari-hari jadi lebih menarik

Pertama kali baca judulnya saya menerka-nerka, apakah ini kumpulan cerpen fabel? Ataukah cerita mesum bestiality? Ah ketimbang saya suudzon lebih jauh lagi, langsung aja tak sobek-sobek bungkusnya.

Begitu baca cerita pertama yang berjudul ‘Moh. Anas Abdullah dan Mesin Ketiknya’, saya langsung tertohok. Begitu Belajar Mencintai Kambing ini membahas hal-hal yang prinsipil di sana. Cerita pertama ini membahas kegalauan tokohnya soal menulis. Ia rela melepas idealismenya untuk menuruti selera pasar.

Nggak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada cerita-cerita yang ada di kumcer Belajar Mencintai Kambing ini. Saya seketika menemukan cerita favorit pada cerpen ke-2 yang berjudul ‘Jeritan Tengah Malam’.

Baca juga: Originals: Mengajarkan jadi pemenang dengan “Tabrak aturan”

Cerpen ke-2 ini berkisah mengenai sebuah kampung yang terkena musibah. Ladang jagung mereka luluh lantak dalam sekejap. Mereka mencurigai kumpulan kera yang tinggal di sebuah bukit.

Nggak membutuhkan waktu lama, kumpulan kera ini dibabat dan hanya menyisakan satu anak kera yang akhirnya dipelihara oleh seorang anak. Namun keesokan harinya, ladang jagung warga desa rata lagi dengan tanah. Mereka kebingungan menghadapi fenomena ini. Sudah ah, cukup sampai di sini saja ceritanya. Ben sampeyan-sampeyan penasaran.

Belajar Mencintai Kambing, menyorot soal kehidupan sehari-hari

Salah satu yang saya suka dari kumcer Belajar Mencintai Kambing adalah kisah-kisahnya yang simple. Mahfud Ikhwan mengolah kejadian sehari-hari sebagai tema ceritanya. Jadi, kita merasa akrab dengan kisah-kisah dalam Belajar Mencintai Kambing. Selain tema kehidupan sehari-hari, ada beberapa cerpen dalam Belajar Mencintai Kambing yang soal misteri dan kritik sosial.

Baca juga: TAN, sebuah novel yang menginspirasi

Ambillah kisah ‘Wadi’ yang menurut penafsiran saya adalah menceritakan tentang fenomena disetubuhi makhluk halus. Kemudian untuk kisah yang mengandung kritik sosial ada pada cerpen ‘Bola, Mata’ yang menyoroti suporter ugal-ugalan. Berlanjut lagi dalam cerpen ‘Iwan’ dan ‘Mufsidin Dimakan Kucing’ bercerita mengenai lika-liku kehidupan TKI.

Karya jawara Sayembara Menulis Novel DKJ 2014

Kumcer Belajar Mencintai Kambing terbitan Mojok ini adalah karya Mahfud Ikhwan. Belajar Mencintai Kambing adalah kumcer pertamanya yang memuat 14 cerita. Nuansa cerita-cerita Mahfud ini agak-agak kelam. Dalam catatan akhir bukunya, ia mengutarakan bahwa gaya bercerita dan menulisnya dipengaruhi beberapa penulis kawakan seperti Kuntowijoyo dan Yanusa Nugroho.

Sebelum Belajar Mencintai Kambing, Mahfud Ikhwan menulis novel Ulid dan Kambing dan Hujan. Novel Kambing dan Hujan merupakan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Karya tersebut juga banyak diapresiasi oleh media sebagai karya sastra terbaik 2015.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *