Kupu-Kupu Bersayap Gelap, kumpulan cerita pendek bernuansa kelam

“… Puthut adalah pencerita yang piawai. Kata-katanya sederhana. Kalimat-kalimatnya ringkas. Tidak neko-neko. Tidak ingin dianggap pintar meliuk-liukkan kata, tapi ceritanya tetap memukau…”

Sebuah testimoni yang terasa berlebihan, tapi ketika membaca kumpulan cerpen dalam Kupu-Kupu Bersayap Gelap, mau nggak mau saya harus setuju. Buku kumpulan cerpen karya Puthut EA kali ini hampir sama dengan yang saya baca sebelumnya, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Benang merah yang menghubungkan keduanya adalah kisah-kisahnya yang kelam.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap, kumpulan kisah pendek bernuansa kelam

Ada 13 cerpen yang termuat dalam Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Ke-13 cerpen tersebut telah meninggalkan kesan kelam dalam benak saya. Percayalah, kalau sampeyan nggak mau galau, mending baca yang lainnya saja. Hehe.

Baca juga: Merenungi ‘Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali’

Kupu-Kupu Bersayap Gelap dibuka dengan sebuah cerita berjudul Laki-Laki yang Tersedu. Dalam cerita ini, Puthut seakan ingin menumpahkan uneg-unegnya mengenai korban kekerasan rumah tangga. Di akhir cerita, saya termangu cukup lama meratapi nasib tokohnya.

Cerita kedua, Kenanga tak kalah naas. Dua insan yang saling mencintai harus berpisah karena nafsu yang dituruti. Nggegirisi. Kisah cinta yang berakhir tragis rupanya masih jamak untuk dibahas. Selain kedua cerpen tersebut, masih ada Rasa Simalakama yang mengupas kegalauan cinta beda agama.

Kisah lain yang khas Puthut EA

Selain tema cinta, kisah-kisah bertemakan sosial juga ditulis Puthut dalam Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Gayung Plastik misalnya, mengajak kita untuk memahami orang yang sedikit ‘berbeda’ dengan kita, bahkan mengajak untuk merangkul perbedaan tersebut.

Tema keluarga juga tak luput dari goresan kisah Puthut. Ibu Pergi ke Laut menggambarkan kegalauan sebuah keluarga tanpa kehadiran sosok ibu. Benalu di Tubuh Mirah membahas sekaligus tema keluarga dan topik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Baca juga: Belajar Mencintai Kambing, mengolah kejadian sehari-hari jadi lebih menarik

Siap termangu setelah Kupu-Kupu Bersayap Gelap pergi

Begitulah tulisan Puthut. Ia masih ajeg membahas tema-tema yang sering dan pernah terjadi di tengah masyarakat kita. Menikmati karya Puthut tak hanya soal rangkaian diksi yang menarik. Segala perasaan kita juga ikut bermain saat membaca kisah demi kisah yang diceritakannya.

Pada akhirnya saya kembali membenarkan sang pemberi kata pengantar lewat sebuah kutipan ini, “Puthut saya kira adalah cerpenis yang bisa memberikan keduanya: melarutkan dan menyampaikan hikmah.”

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *