Misteriusnya cinta dalam novel Call Me by Your Name

call me by your name

Cinta itu misteri. Tanpa babibubebo lagi, saya mengamini pernyataan ini. Kamu juga harus lo! *Maksa*. Kalau nggak percaya, coba baca novelnya Andrè Aciman yang berjudul Call Me by Your Name, niscaya setelah membacanya kamu akan sadar bahwa cinta itu penuh tanda tanya.

Oh ya, sebelum lanjut, saya harus memperingatkan kamu-kamu yang punya kecenderungan homophobia untuk segera baca postingan lainnya di blog ini, karena tulisan kali ini mengandung konten yang ke-so sweet-annya tak akan mungkin bisa di-handle sama kamu-kamu yang homophobic.

So, Call Me by Your Name menceritakan kisah cinta antara 2 lelaki. Oliver yang saat itu mempersiapkan bukunya untuk diterbitkan dalam Bahasa Italia, tinggal bersama keluarga Elio di sebuah rumah musim panas. Elio yang lagi liburan, dengan sukarela menjadi tour guide bagi Oliver.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama berkeliling kota, berenang, atau hanya sekedar duduk-duduk menikmati hangatnya sinar matahari musim panas.

Quotes Call Me by Your Name
Quotes Call Me by Your Name

Witing trisno jalaran saka kulino, Elio mulai merasakan getar-getar cinta pada Oliver. Ia kagum pada sosoknya yang tampan dan pandai bergaul. Ia juga dibikin jengkel-jengkel gemes sama ucapan khas “Later!” dari Oliver.

Oliver pun diam-diam tertarik pada Olio, seorang pemuda berusia 17 tahun yang sudah tahu banyak hal. Namun, mereka maju mundur cantik untuk mengungkapkan cinta.

Elio hanya mampu memberi kode-kode kecil. Oliver sebenarnya tahu kode-kode tersebut dan tengah menyiapkan manuver untuk membalasnya.

Membaca Call Me by Your Name membuat perasaan saya ketar-ketir. Tulisan Andrè Aciman yang mengalir sangat menggelitik rasa penasaran, sehingga saya ingin menuntaskan novel ini hanya dalam sekali duduk. Sayangnya keinginan tersebut tak terwujud, tapi saya berhasil menyelesaikan Call Me by Your Name hanya dalam waktu 2 hari saja. Sungguh rekor yang membahagiakan. Haha.

Andrè Aciman menunjukkan naik turunnya perasaan cinta antara Oliver dan Elio dengan baik. Kecamuk kedua perasaan tokohnya dijabarkan dengan gamblang, terutama dari sisi Elio. Hingga akhirnya mereka bisa bersama dan mulai menghadapi konflik dalam hubungan mereka.

Ada yang menarik dari novel ini, yaitu Elio yang semakin jatuh hati dengan Oliver karena aksesoris bintang daud. Lambang agama Yahudi tersebut turut menyumbang cerita karena Andrè Aciman sendiri adalah seorang Yahudi.

Call Me by Your Name bersetting tahun 80an, sehingga wajar sekali jika mereka menutup-nutupi hubungan cinta ini. Namun, tokoh ayah Elio mampu memahami itu semua dengan baik. Ia tak menghalangi hubungan anaknya, pun tak mengijinkan sepenuhnya. Ia hanya berpesan agar berhati-hati dengan perasaannya.

Call Me by Your Name diceritakan dari sudut pandang Elio. Pemuda ini mengenang kisah cintanya dengan Oliver 20 tahun silam.

Kenangan Elio tentang Oliver membuat saya merasakan kemisteriusan cinta. Kadang kita memang nggak tahu dengan siapa akan jatuh cinta. Apakah cinta itu langgeng atau sementara? Apakah cinta itu benar-benar cinta? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu terbungkus rapi dalam Call Me by Your Name

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *