Men Without Women, peliknya pria tanpa wanita

I can’t imagine the world without women. Terus kita lahir dari mana? Terus kita ena-ena sama siapa? Eh! Meskipun nanti kita para lelaki nggak dibikin bingung lagi harus bagaimana memaknai kata “terserah” yang kadang muncul dari mulut manis mereka, tetap saja dunia tanpa wanita bakalan kotak-kotak dan batangan-batangan. Boriiiiiing! Pokoknya lebih happy deh kalau ada wanita.

Nggak percaya kalau dunia tanpa wanita itu bakalan aneh? Coba deh cek kumpulan cerpen Haruki Murakami, Men Without Women. Dalam Men Without Women terdapat 7 kumpulan cerita yang menceritakan segala macam peliknya kehidupan pria tanpa wanita. Ada yang diselingkuhi, ada yang punya pacar, tapi nggak jelas, ada yang sedang dimabuk asmara, dan lain-lain. Galau? Jelas! Namun, nggak semuanya kok. Murakami masih menyisakan sedikit, sedikit lho ya, manisnya hidup tanpa wanita.

Dimulai dengan cerita pendek berjudul Drive My Car. Tokohnya bernama Kafuku adalah seorang pemain teater yang harus rela kehilangan SIM karena penyakit mata yang dideritanya. Untuk pulang pergi dari teater ke rumahnya, ia harus naik kendaraan umum. Rupanya ia tak begitu menikmati rutinitas naik angkutan umum tersebut, sehingga ia terpaksa membayar sopir.

Pencarian akan sopir pun dilakukan dan pilihan Kafuku jatuh pada seorang sopir wanita. Awalnya ia tak terlalu percaya dengan sopir tersebut, karena ia menganggap wanita tak pandai memegang kemudi. Namun, kepercayaan Kafuku tersebut akhirnya terpatahkan. Sopir wanita yang disewanya memiliki kemampuan mengemudi yang di atas rata-rata. Selain kemampuan mengemudi, sang sopir juga memiliki penampilan yang biasa saja dan tak banyak bicara. Dua kelebihan yang sangat diapresiasi oleh Kafuku.

Meskipun sang sopir dan Kafuku tak banyak berbicara, bukan berarti selama dalam perjalanan mereka bungkam. Kadang mereka saling bertukar kata. Pertukaran kata tersebut tak hanya basa-basi belaka, tapi sebuah percakapan yang mampu membuat Kafuku membuka kembali lembar-lembar kehidupan masa lalunya.

Sebagai pembuka, Drive My Car adalah sebuah cerita yang mampu membuatku penasaran akan kisah-kisah selanjutnya. Kafuku adalah seorang tokoh yang memiliki karakter lelaki pada umumnya yang masih sering meremehkan wanita. Namun, Kafuku juga memiliki sisi malaikat yang sangat amat jarang SEKALI dimiliki pria lain. Di cerita pertama ini Murakami masih menyimpan ke-absurd-an sebuah cerita yang menjadi ciri khasnya.

Cerita demi cerita pun tandas kubaca. Dan aku jatuh hati pada cerita berjudul Samsa In Love. Kalau dibaca sampai habis, Samsa In Love merupakan cerita semi-semi dystopia. Setting waktu dan tempatnya nggak jelas, tapi Samsa In Love berhasil membuatku kagum sekaligus ngakak.

Tokoh utamanya, Samsa tiba-tiba terbangun di sebuah rumah gedong kosong. Ia merasa sekujur tubuhnya sakit dan kelaparan. Menuruti naluri laparnya, ia berkeliling ke seluruh rumah demi sedikit makanan. Samsa kaget karena menemukan seluruh pintu di dalam rumah kosong tersebut tak terkunci.

Kemudian datang seorang wanita bungkuk yang mengaku sebagai tukang kunci yang telah dipanggilnya. Samsa pun heran, karena ia merasa tak memanggil tukang kunci tersebut. Namun, ia tetap mempersilahkan tukang kunci untuk memeriksa keadaan satu per satu pintu rumah. Saat mengamati si bungkuk memeriksa pintu, Samsa merasakan ada yang aneh pada perasaannya. Sebuah perasaan yang menuntut untuk dituntaskan.

Judul Men Without Women diambil dari cerita terakhir dalam kumpulan cerpen ini. Seperti biasa, Murakami menyuguhkan cerita-cerita yang melampaui persepsi kita akan kewajaran. Ia menyajikan tokoh dengan karakter aneh, tapi pasti memiliki suatu kelebihan yang menonjol.

7 cerita dalam Men Without Women  mengemas dengan apik arti cinta yang tulus, persahabatan, kesabaran, dan kesendirian. Kamu yang butuh kesabaran sangat bisa belajar dari Drive My Car dan Kino.

SUDAH BACA YANG INI BELUM?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *